BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang Masalah

Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial. Dalam keluarga umumnya anak ada dalam hubungan interaksi yang intim. Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan anak (Kartono, 1992). Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak yang mempunyai pengaruh besar. Haryoko (1997:2) berpendapat bahwa lingkungan keluarga sangat besar pengaruhnya sebagai stimlans dalam perkembangan anak. Bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Orang tua dikatakan pendidik pertama karena dari merekalah anak mendapatkan pendidikan untuk pertama kalinya dan dikatakan pendidik utama karena pendidikan dari orang tua menjadi dasar perkembangan dan kehidupan anak di kemudian hari.

Apabila cara orang tua mendidik anaknya di rumah dengan baik, maka di sekolah atau di lingkungan masyarakat anak itupun akan berperilaku baik pula. Tapi sebaliknya apabila cara orang tua mendidik anaknya dirumah dengan kurang baik seperti lebih banyak santai, bermain, dimanjakan, maka di sekolah atau di lingkungan masyarakat yang kondisinya berbeda dengan lingkungan di keluarganya maka anak tersebut akan menjadi pemberontak, nakal, kurang sopan dan malas.

            Masalah dalam perekonomian keluarga pun sangat mempengaruhi pola asuh orang tua terhadap pembentukan kepribadian anak. Pembentukan kepribadian anak akan tertanggu apabila keluarganya mengalami masalah ekonomi yang cukup berat dan disini diperlukan pola asuh orang tua yang benar supaya anak bisa membentuk kepribadiannya dengan baik.

 

 

 

 

 

 

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pengaruh pola asuh orang tua dengan tingkat ekonomi menengah ke atas dan menengah ke bawah terhadap pembentukan kepribadian anak?
  2. Apa dampak yang ditimbulkan dan solusi dari pengaruh pola asuh orang tua dengan tingkat ekonomi menengah ke atas dan menengah ke bawah terhadap pembentukan kepribadian anak?

 

1.3  Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengetahui tentang pengaruh pola asuh orang tua dengan tingkat ekonomi menengah ke atas dan menengah ke bawah terhadap pembentukan kepribadian anak
  2. Untuk mengetahui tentang dampak dan solusi yang ditimbulkan dari pengaruh pola asuh orang tua dengan tingkat ekonomi menengah ke atas dan menengah ke bawah terhadap pembentukan kepribadian anak

 

1.4  Manfaat Penulisan

  1. Dapat memberikan pemahaman tentang pengaruh pola asuh orang tua dengan tingkat ekonomi menengah ke atas dan menengah ke bawah terhadap pembentukan kepribadian anak
  2. Dapat memberikan pemahaman tentang dampak dan solusi yang ditimbulkan dari pengaruh pola asuh orang tua dengan tingkat ekonomi menengah ke atas dan menengah ke bawah terhadap pembentukan kepribadian anak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1  Pengertian Pola Asuh Orang Tua

 

  • Berdasarkan tata bahasanya, pola asuh terdiri dari kata pola dan asuh. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata pola berarti model, sistem, cara kerja, bentuk (struktur yang tetap), sedangkan kata asuh mengandung arti menjaga, merawat, mendidik anak agar dapat berdiri sendiri. Orang tua adalah pendidik utama dan pertama sebelum anak memperoleh pendidikan di sekolah, karena dari keluargalah anak pertama kalinya belajar. Jadi keluarga tidak hanya berfungsi terbatas sebagai penerus keturunan saja, tetapi lebih dari itu adalah pembentuk kepribadian anak.
  • Menurut Kohn, pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Sikap orang tua ini meliputi cara orang tua memberikan aturan-aturan, hadiah maupun hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritasnya, dan cara orang tua memberikan perhatian serta tanggapan terhadap anaknya.
  • Tarsis Tarmudji, menyatakan bahwa, pola asuh merupakan interaksi antara orang tua dengan anaknya selama mengadakan pengasuhan. Pengasuhan ini berarti orang tua mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan dengan norma-norma yang ada di masyarakat.

 

http://pangeranrajawawo.blogspot.com/2011/12/pola-asuh-orang-tua.html

  • Menurut Bjorklund dan Bjorklund, dkk. (1992) dalam Daeng Ayub Natuna (2007: 144) bahwa pola asuh orang tua adalah cara-cara orang tua berinteraksi secara umum dengan anaknya. Dalam hal ini banyak macam klasifikasi yang dapat dilakukan, salah satunya adalah kalasifikasi berikut: otoriter, permisif, dan otoritatif.
  • M. Shochib (1998: 14) mengatakan  bahwa pola pertemuan antara orang tua sebagai pendidik dan anak sebagai terdidik dengan maksud bahwa orang tua mengarahkan anaknya sesuai dengan tujuannya, yaitu membantu anak memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri. Orang tua dengan anaknya sebagai pribadi dan sebagai pendidik, dapat menyingkap pola asuh orang tua dalam mengembangkan disiplin diri anak yang tersirat dalam situasi dan kondisi yang bersangkutan.
  • Sementara itu, Alex Sobur (1991: 23) mengatakan bahwa sebenarnya anak-anak yang diasuh secara langsung oleh ibu dan ayah adalah anak-anak yang beruntung, karena mereka tidak hanya mengalami satu tetapi beberapa pendekatan yang membuatnya dewasa.  Proses pendewasaan ini akan banyak menentukan pembentukan kepribadian anak kelak. Ia akan memiliki cara berpikir dan kehidupan perasaan yang kaya dan seimbang karena terbiasa menghadapi dua macam individu yang berbeda secara dekat dan terus menerus.

http://aindah.wordpress.com/2010/07/03/pola-asuh-orang-tua/

 

2.2  Jenis-jenis Pola Asuh Orang Tua

 

a)      Pola Asuh Permissif

Definisi pola asuh permissif menurut beberapa ahli yaitu :

  • Hurlock (2006) mengemukakan bahwa orang tua yang menerapkan pola asuh permissif memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut: orang tua cenderung memberikan kebebasan penuh pada anak tanpa ada batasan dan aturan dari orang tua, tidak adanya hadiah ataupun pujian meski anak berperilaku sosial baik, tidak adanya hukuman meski anak melanggar peraturan.
  • Gunarsa (2000) mengemukakan bahwa orang tua yang menerapkan pola asuhü permissif memberikan kekuasaan penuh pada anak, tanpa dituntut kewajiban dan tanggung jawab, kurang kontrol terhadap perilaku anak dan hanya berperan sebagai pemberi fasilitas, serta kurang berkomunikasi dengan anak. Dalam pola asuh ini, perkembangan kepribadian anak menjadi tidak terarah, dan mudah mengalami kesulitan jika harus menghadapi larangan-larangan yang ada di lingkungannya.
  • Prasetya dalam Anisa (2005) menjelaskan bahwa pola asuh permissif atauü biasa disebut pola asuh penelantar yaitu di mana orang tua lebih memprioritaskan kepentingannya sendiri, perkembangan kepribadian anak terabaikan, dan orang tua tidak mengetahui apa dan bagaimana kegiatan anak sehari-harinya.
  • Dariyo dalam Anisa (2005) juga menambahkan bahwa pola asuh permissifü yang diterapkan orang tua, dapat menjadikan anak kurang disiplin dengan aturan-aturan sosial yang berlaku. Namun bila anak mampu menggunakan kebebasan secara bertanggung jawab, maka dapat menjadi seorang yang mandiri, kreatif, dan mampu mewujudkan aktualitasnya.

b) Pola Asuh Otoriter

Definisi pola asuh otoriter menurut beberapa ahli yaitu :

  • Hurlock (2006) mengemukakan bahwa orang tua yang mendidik anak denganü menggunakan pola asuh otoriter memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut: orang tua menerapkan peraturan yang ketat, tidak adanya kesempatan untuk mengemukakan pendapat, anak harus mematuhi segala peraturan yang dibuat oleh orang tua, berorientasi pada hukuman (fisik maupun verbal), dan orang tua jarang memberikan hadiah ataupun pujian.
  • Menurut Gunarsa (2000), pola asuh otoriter yaitu pola asuh di manaü orang tua menerapkan aturan dan batasan yang mutlak harus ditaati, tanpa memberi kesempatan pada anak untuk berpendapat, jika anak tidak mematuhi akan diancam dan dihukum. Pola asuh otoriter ini dapat menimbulkan akibat hilangnya kebebasan pada anak, inisiatif dan aktivitasnya menjadi kurang, sehingga anak menjadi tidak percaya diri pada kemampuannya.
  • Senada dengan Hurlock, Dariyo dalam Anisa (2005), menyebutkan bahwaü anak yang dididik dalam pola asuh otoriter, cenderung memiliki kedisiplinan dan kepatuhan yang semu.

 

 

c)      Pola Asuh Demokratis

Definisi pola asuh demokratis menurut beberapa ahli yaitu :

  • Hurlock (2006) mengemukakan bahwa orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis memperlihatkan ciri-ciri adanya kesempatan anak untuk berpendapat mengapa ia melanggar peraturan sebelum hukuman dijatuhkan, hukuman diberikan kepada perilaku salah, dan memberi pujian ataupun hadiah kepada perilaku yang benar.
  • Gunarsa (2000) mengemukakan bahwa dalam menanamkan disiplin kepada anak, orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis memperlihatkan dan menghargai kebebasan yang tidak mutlak, dengan bimbingan yang penuh pengertian antara anak dan orang tua, memberi penjelasan secara rasional dan objektif jika keinginan dan pendapat anak tidak sesuai. Dalam pola asuh ini, anak tumbuh rasa tanggung jawab, mampu bertindak sesuai dengan norma yang ada.
  • Dariyo dalam Anisa (2005) mengatakan bahwa pola asuh demokratis ini, di samping memiliki sisi positif dari anak, terdapat juga sisi negatifnya, di mana anak cenderung merongrong kewibawaan otoritas orang tua, karena segala sesuatu itu harus dipertimbangkan oleh anak kepada orang tua.
    Diakui dalam prakteknya di masyarakat, tidak digunakan pola asuh yang tunggal, dalam kenyataan ketiga pola asuh tersebut digunakan secara bersamaan di dalam mendidik, membimbing, dan mengarahkan anaknya, adakalanya orang tua menerapkan pola asuh otoriter, demokratis dan permissif. Dengan demikian, secara tidak langsung tidak ada jenis pola asuh yang murni diterapkan dalam keluarga, tetapi orang tua cenderung menggunakan ketiga pola asuh tersebut.
  • Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Dariyo dalam Anisa (2005), bahwa pola asuh yang diterapkan orang tua cenderung mengarah pada pola asuh situasional, di mana orang tua tidak menerapkan salah satu jenis pola asuh tertentu, tetapi memungkinkan orang tua menerapkan pola asuh secara fleksibel, luwes, dan sesuai dengan situasi dan kondisi yang berlangsung saat itu.

d)     tipe Penelantar

Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka, seperti bekerja, dan juga kadangkala biayapun dihemat-hemat untuk anak mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah perilaku penelantar secara fisik dan psikis pada ibu yang depresi. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mampu memberikan perhatian fisik maupun psikis pada anak-anaknya.

 

Indikator dari pola asuh orang tua terhadap anaknya dapat dikelompokkan sebagai berikut :

a)      Pola asuh permissif, antara lain mempunyai indikator :

  • Memberikan kebebasan kepada anak tanpa ada batasan dan aturan dari orang tua
  • Anak tidak mendapatkan hadiah ataupun pujian meski anak berperilaku sosial baik
  • Anak tidak mendapatkan hukuman meski anak melanggar peraturan
  • Orang tua kurang kontrol terhadap perilaku dan kegiatan anak sehari-hari
  • Orang tua hanya berperan sebagai pemberi fasilitas.

b)      Pola asuh otoriter, antara lain mempunyai indikator :

  • Orang tua menerapkan peraturan yang ketat
  • Tidak adanya kesempatan untuk mengemukakan pendapat
  • Segala peraturan yang dibuat harus dipatuhi oleh anak
  • Berorientasi pada hukuman (fisik maupun verbal)
  • Orang tua jarang memberikan hadiah ataupun pujian

c)      Pola asuh demokratis, antara lain mempunyai indikator :

  • Adanya kesempatan bagi anak untuk berpedapat
  • Hukuman diberikan akibat perilaku salah
  • Memberi pujian ataupun hadiah kepada perilaku yang benar
  • Orang tua membimbing dan mengarahkan tanpa memaksakan kehendak kepada anak
  • Orang tua memberi penjelasan secara rasional jika pendapat anak tidak sesuai
  • Orang tua mempunyai pandangan masa depan yang jelas terhadap anak.

http://pangeranrajawawo.blogspot.com/2011/12/pola-asuh-orang-tua.html

 

2.3  Pengertian Kepribadian

Menurut Atkison,dkk (1996), kepribadian adalah pola perilaku dan cara berpikir yang khas, yang menentukan penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungannya (Sugihartono dkk,2007:46). Definisi tersebut menunjukkan adanya konsistensi perilaku, bahwa orang cenderung untuk bertindak atau berpikir dengan cara tertentu dalam berbagai situasi.

Istilah kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa inggris “personality”. Secara etimologis, kata personality berasal dari bahasa latin “persona” yang berarti topeng. Menurut Gordon W All Port “Personality is the dynamic organization whitin the individual of those psychophysical system, that determines his unique adjustment to his environment”.

Menurut bangsa Roma, persona berarti “bagaimana seseorang tampak pada orang lain”, bukan dari sebenarnya. Aktor menciptakan dalam pikiran penonton, suatu impresi dari tokoh yang diperankan diatas pentas, bukan impresi dari tokoh itu sendiri. Dari konotasi kata persona inilah, gagasan umum mengenai kepribadian sebagai kesan yang diberikan seseorang pada orang lain diperoleh. Apa yang dipikir, dirasakan dan siapa dia sesungguhnya termasuk dalam keseluruhan “make up” psikologis seseorang dan sebagian besar terungkapkan melalui perilaku, karena itu kepribadian bukanlah suatu atribut yang pasti dan spesifik, melainkan merupakan kualitas perilaku total seseorang.

 

http://diarynurhidayah.blogspot.com/2012/03/pengaruh-pola-asuh-orang-tua-terhadap.html

 

2.4  Pengertian Karakter

Dennis Coon dalam bukunya Introduction to Psychology : Exploration and Aplication mendefinisikan karakter sebagai suatu penilaian subyektif terhadap kepribadian seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh masyarakat. Karakter adalah jawaban mutlak untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik didalam masyarakat.

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/09/15/konsep-pendidikan-karakter/

2.5  Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character development”.  Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan  harus berkarakter.

Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. (2004), pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut: “character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan  pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk  pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan   warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga   masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat    atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang  banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena  itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni  pendidikan nilai-nilai luhur   yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka  membina kepribadian generasi muda.

Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.

Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan  di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut telah  sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian  peserta didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.

Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan pendapat di antara mereka  tentang pendekatan dan modus pendidikannya. Berhubungan dengan  pendekatan, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi nilai. Sebagian  yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri peserta didik.

Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas (2010), secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik  (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development) yang secara diagramatik dapat digambarkan sebagai berikut.

 

Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan moral.  Menurut Hersh, et. al. (1980), di antara berbagai teori yang berkembang, ada enam teori yang banyak digunakan; yaitu: pendekatan pengembangan rasional, pendekatan pertimbangan, pendekatan klarifikasi nilai, pendekatan pengembangan moral kognitif, dan pendekatan perilaku sosial. Berbeda dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989)  mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni: pendekatan kognitif, pendekatan afektif, dan pendekatan perilaku. Klasifikasi didasarkan pada tiga unsur  moralitas, yang biasa menjadi tumpuan kajian psikologi, yakni:  perilaku, kognisi, dan afeksi.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/09/15/konsep-pendidikan-karakter/

BAB III

PEMBAHASAN

 

3.1  Pengaruh pola asuh orang tua dengan tingkat ekonomi menengah keatas dan menengah kebawah terhadap pembentukan kepribadian anak

 

Pengasuhan anak dilakukan oleh orang tua dengan menggunakan pola asuh tertentu. Penggunaan pola asuh ini memberikan sumbangan dalam mewarnai perkembangan terhadap bentuk-bentuk perilaku social pada anak. Pola asuh yang diberikan orang tua pada anak berbeda-beda hal ini sangat dipengaruhi oleh dua factor, yaitu factor internal dan eksternal. Yang termasuk factor internal, misalnya latar belakang keluarga orang tuanya, usia orang tua dan anak, pendidikan dan wawasan orang tua, jenis kelamin orng tua dana anak, karakter anak dan konsep peranan orang tua dalam keluarga. Sedangkan yang termasuk factor eksternal, misalnya adalah tradisi yang berlaku dalam lingkungannya, sosial ekonomi dalam lingkungannya, dan semua hal yang berasal dari luar lingkungan keluarga yang dapat mempengaruhi pola asuh keuarganya.

Permasalahan ekonomi di Indonesia memang sangat memprihatinkan, begitu pula dengan permasalahan ekonomi dalam keluarga yang merupakan masalah yang paling sering dihadapi. Tanpa disadari permasalahan ekonomi dalam keluarga sangat mempengaruhi atau akan berdampak pada pola asuh orang tua yang diberikan pada anak. Orang tua terkadang melampiaskan kekesalan yang dihadapi pada anaknya, padahal untuk anak yang usia prasekolah atau masih usia balita masih belum mengerti tentang masalah perekonomian dalam keluarga yang hanya akan memperburuk keadaan psikologi anak dan anak hanya menjadi korban dari orang taunya. 

Pola asuh orang tua yang perekonomiannya menengah ke atas dengan orang tua yang tingkat perekonomiannya menengah ke bawahakan akan berbeda dalam perwujudannya, orang tua yang tingkat ekonominya menengah ke atas dalam pengasuhannya biasanya orang tua akan memanjakan anaknya apapun yang diingkan olehnya akan dipenuhi oleh orang tuanya. Dengan tingkat perekonomian menengah ke atas segala kebutuhan dan keinginan anaknya selalu terpenuhi dan orang tua selalu memberikan fasilitas yang berlebih pada anaknya yang terkadang tidak melihat dari dasar perkembangan anaknya. Pola asuh ynag diberikan oleh orang tua terhadap anaknya hanya sebatas dengan materi yang dimiliki orang tua, perhatian dan kasih sayang dari orang tua terkadang terlupakan akibat orang tua hanya sibuk dengan urusan materinya dan dalam perwujudan pola asuhnya hanya diwujudkan dalam materi atau pemenuhan kebutuhan anaknya.

Anak yang terbiasa dari kecil dididik oleh orang tuanya dengan pola asuh yang demikian, akan berdampak buruk pada pembentukan kepribadian anak. Kepribadian anak akan menjadi manja, serba menilai sesuatu dengan materi, dan tidak menutup kemungkinan anak akan menjadi sombong dengan kekayaan yang dimiliki oleh orang tuanya serta kurang menghormati dan menghargai orang yang ekonominya lebih rendah darinya.

Sedangkan pola asuh orang tua yang tingkat ekonominya menengah kebawah, dalam pengasuhannya memang sangat terbatas dengan tingkat ekonomi yang kurang. Biasaya dalam pola pengasuhannya tidak memenuhi kebutuhan anak yang bersifat materi tetapi lebih menekankan pada kasih sayang dan perhatian serta bimbingan untuk membentuk kepribadian yang baik bagi anaknya.

Pemenuhan kebutuhan pun hanya bersifat yang sangat penting bagi anaknya yang akan dipenuhinya, oleh karena itu anak yang hidup dalam perekonomian menengah ke bawah akan terbiasa hidup dengan segala kekurangan yang dialami dalam keluarganya sehingga akan terbentuk kepribadian yang mandiri, tidak manja, mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya, dan akan lebih menghormati dan menghargai orang lain. 

Tetapi dalam kenyataannya terdapat juga anak yang  tingkat ekonomi keluarganya menengah ke atas berprilaku baik dan menghargai serta menghormati orang lain juga suka membantu teman-temannya yang tingkat ekonomi orang tuanya menengah ke bawah. Dan terdapat pula anak yang tingkat ekonominya menengah ke bawah terkadang minder atau malu dengan keadaan ekonomi orang tuanya, sehingga menyebabkan kepribadian anak yang kurang menghormati orang tuanya dan suka berprilaku kurang sopan pada orang tuanya.

Oleh karena itu peran orang tua dalam penerapan pola asuh pada anaknya sangat penting  dan harus menyeimbangkan dengan pendidikan agama pada anak sedari dini mungkin supaya membentuk kepribadian anak yang yang baik dan membanggakan orang tuanya serta selalu mensyukuri segala yang telah diberikan oleh sang pencipta.

 

3.2  Dampak yang ditimbulkan dari pengaruh pola asuh orang tua dengan tingkat ekonomi menengah ke atas dan menengah ke bawah terhadap pembentukan kepribadian anak

 

Dampak yang ditimbulkan dari pola asuh orang tua yang salah akan membentuk kepribadian anak yang salah pula, begitu pula sebaliknya apabila pola asuh orang tua benar maka pembentukan kepribadian abakpun akan benar.Menurut psikolog anak dari Universitas Indonesia, Prasetyawati (Tempo,2009) mengatakan tangguh tidaknya kepribadian seorang anak bergantung pada pola asuh yang diterapkan oleh orang tuanya.

Sebagaimana pola asuh yang diterapkan oleh keluarga yang tingkat ekonominya menengah ke atas, biasanya dikenal dengan pola asuh permisif yaitu orang tua cenderung menggantungkan diri pada penalaran dan manipulasi, tidak menggunakan kekeuasaan terbuka, sehingga anak lebih bebas melakukan sesuatu sesuai kehendaknya. Orang tua dianggap berkuasa dan tidak membimbing anak untuk patuh pada semua perintah orang tuanya. Kebebasan yang berlebihan seperti ini tidak sesuai dengan perkembangan jiwa anak yang dapat menyebabkan anak menjadi imfulsif dan agresif.

Sedangkan pada pola asuh orang tua dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah menerapkan pola asuh yang dikenal sebagai model demokratis, ditandai dengan dukungan emosional yang tinggi, komunikasi yang terbuka, standar yang tinggi, dan jaminan kemandirian sehubungan dengan kompetensi anak. Anak yang diasuh dengan menggunakan model pola asuh demokratis dapat memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya, dan dapat mengembangkan keterampilannya.

Bermacam-macam pola asuh yang diterapkan oleh orang tua ini sangat mempengaruhi bagaimana anak melakukan penyesuaian diri dengan lingkungannya sosialnya, seperti pengaruh-pengaruh dari pola asuh seperti ini :

  • Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru, dan koperatif terhadap orang-orang lain.
  • Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas dan menarik diri.
  • Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial.
  • Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang moody, impulsive, agresif, kurang bertanggung jawab, tidak mau mengalah, Self Esteem (harga diri) yang rendah, sering bolos, dan bermasalah dengan teman.

Agar dampak yang ditimbulkan dari pola asuh orang tua yang salah tidak terjadi, maka sebaiknya orang tua menerapkan pola asuhnya disertai dengan beberapa hal sebagai berikut :

  • Usahakan untuk selalu menanamkan ajaran agama pada anak-anak sejak dini. Pola asuh keluarga berbasis agama yang dinilai sebagai pendidikan paling baik saat ini.
  • Anak akan meniru orang tua, jadi sebaiknya orang tua pun harus menjadi teladan yang baik. Jika ingin memiliki anak yang berperilaku positif, orang tua pun harus menjauhi segala hal yang negatif.
  • Menjalin komunikasi antara orang tua dan anak adalah hal yang sangat penting, hal ini agar terjadi saling pengertian dan tidak menimbulkan salah paham.
  • Orang tua wajib memberikan aturan-aturan tertentu agar anak tidak terlalu dibebaskan, namun aturan-aturan tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan atau kebutuhana anak, sehingga anak pun tidak merasa berat dan terbebani.
  • Hukuman memang boleh diberikan, bahkan dianjurkan agar si anak menjadi jera. Tapi hukuman yang dimaksud bukanlah kemarahan yang menjadi-jadi atau kekerasan fisik yang membuat anak kesakitan. Anak yang masih labil, bisa salah paham dan berpikiran buruk pada orang tua yang suka memberikan hukuman fisik. Hukuman orang tua pada anak adalah bentuk kasih sayang, jadi sebagai orang tua harus pintar-pintar memberikan hukuman yang cocok bagi anak.

 

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

  • Pengaruh pola asuh orang tua dengan tingkat ekonomi menengah ke atas dan menengah ke bawah memiliki pengaruh yang berbeda pada perkembangan kepribadian anak. Anak yang berada pada keluarga yang tingkat ekonominya menengah ke atas biasanya memiliki sifat yang kurang baik, kurang menghormati dan menghargai orang lain, memandang orang lain dari sisi materinya saja, dan bersikap sombong. Perilaku tersebut lahir karena pola asuh orang tua yang salah, pola asuh pada kasus yang seperti ini biasanya menggunakan model Permisif yaitu selalu memanjakan anaknya, memenuhi segala kebutuhan yang selalu diingkan oleh anaknya, kurangnya berinteraksi antara orang tua dan anak mungkin karena keadaan orang tua yang selalu sibuk dengan urusan pekerjaannya.

Sedangkan pada anak yang berada pada lingkungan keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah biasanya memili sifat yang mampu berdiri sendiri, membentuk kepribadian yang kuat dan tangguh, lebih menghormati dan menghargai orang lain,selalu bersyukur atas apa yang dimilikinya dan bersikap baik. Perilaku yang seperti lahir atas pola asuh orang tua yang benar, pola asuh pada kasus ini biasanya menggunakan model pola asuh demokratis dimana komunikasi dan interaksi antara anak dan orang tua berjalan baik, perhatian dan kasih sayang dari orang tua yang selalu hangat di berikan setiap saat, dan pendidikan formal serta pendidikan agama yang baik yang diajarkan sedari dini.

  • Dampak yang terjadi akibat penerapan pola asuh yang salah pada keluaraga akan menyebabkan pembentukan kepribadian yang salah pada anak. Diharapakan setiap orang tua harus mampu dan teliti untuk memilih jenis pola asuh yang baik yang akan diterapkan dalam proses pengasuhan orang tua pada anaknya.

 

DAFTAR PUSTAKA