1. 1.      Kondisi Admnistratif

Secara geografis, Desa ngadisari berada di wilayah kompleks Gunung Bromo yaitu antara 7⁰56’30” LS dan 112⁰37’ BT. Desa Ngadisari merupakan bagian dari Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Propinsi Jawa Timur.

Penduduk setempat adalah suku Tengger. Luas daerah Tengger itu sendiri sekitar 40 km dari utara ke selatan dan 20-30 km dari timur ke barat, di atas ketinggian antara 1000 m dpl – 3675 m dpl.

Suku Tengger di Desa Ngadisari sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, yakn sebanyak 95%, sedangkan sebagian kecil dari mereka (5%) hidup sebagai pegawai negeri, pedagang, buruh, dan usaha jasa. Bidang jasa yang mereka tekuni antara lain menyewakan kuda tunggang untuk wisatawan, baik dalam maupun luar negeri, menjadi sopir jeep (biasanya miliknya sendiri), dan menyewakan kamar untuk para wisatawan. Hasil pertanian yang utama adalah sayuran.

Pada penghujung akhir musim hujan mereka akan menanam jagung sebagai cadangan makanan pokok. Sejak zaman pemerintahan Majapahit, tingkat perkembangan penduduk Tengger tergolong lambat. Sejarah perkembangan masyarakat Tengger tdak dketahui dengan jelas.

Masyarakat suku Tengger begitupula yang berada di Desa Ngadsari tidak mengenal dualisme kepemimpinan, walaupun ada yang namanya dukun adat. Tetapi secara formal pemerintahan dan adat suku Tengger dipimpin oleh seorang Kepala Desa (Petinggi) yang sekalgus adalah kepala adat. Proses pemilihan petinggi dilakukan dengan cara pemilihan langsung oleh masyarakat, melalui proses pemilihan petinggi. Sedangkan untuk memilih dukun, dilakukan melalui beberapa tahapan-tahapan (menyangkut diri pribadi calon dukun), yang pada akhirnya akan diuji melalui ujian Mulenan (ujian pengucapan mantra yang tidak boleh terputus ataupun lupa) yang waktunya pada waktu upacara Kasada yang bertempat di Poten Gunung Bromo.

Sebagai kelompok masyarakat yang menamakan dirnya masyarakat Tengger tentu memilik kedinamisan hidup, karena sebagai manusia normal mereka tidak mau dianggap kelompok yang statis. Oleh karena itu, di dalam kedinamisan hidup masyarakat Tengger, memiliku=i orang-orang atau kelompok orang yang menjadi pioner dalam menggerakkan massanya agar senantiasa survive dan dinamis. Pioner tersebut dapat diangkat sebagai pimpinan, yatu dengan segala tindakan yang dilakukan orang-orang untuk menyebabkan aktivitas keseluruhan maupun bentuk aktivitas khusus dalam masyarakat atau seseorang yang mampu memerintah, menyuruh, membina dan melindungi warga masyarakat karena kewibawaan, kekuasaan dan wewenang yang dimiliki berdasar adat-istiadat dan hukum yang berlaku dalam masyarakat tersebut.

 

  1. 2.      Kondisi Morfologi

Secara regional, Jawa Timur dibagi menjadi beberapa zona fisiografis (van Bemmelen, 1949) yaitu Zona Dataran Alluvial, Zona Rembang, Zona Depresi Randu Blatung, Zona Kendeng, Zona Depresi dan Zona Pegunungapian Selatan. Zona Depresi dibagi menjadi tiga, yaitu Sub-zona Ngawi di bagian utara, Sub-zona Solo di bagian tengah dan Sub-zona Blitar di bagian selatan.

Komplek Tengger terletak di Sub-zona Solo, bagian dari Zona Depresi Jawa Timur. Sub-zona Solo terbentuk oleh barisan gunungapi berumur kuarter, mulai dari Plestosen hingga Holosen. Diantara gunungapi-gunungapi tersebut didapatkan dataran-dataran yang disebut dataran intramontana. gunungapi-gunungapi yang dijumpai di sub-zona ini membentuk kelurusan gunungapi dari barat berturut-turut Lawu, Wilis, Kelud, Arjuno-Welirang, Argopuro, Bromo-Tengger, Semeru, Ijen, dan Raung. Gunungapi Bromo-Tengger ke arah utara – selatan membentuk kelurusan Tengger–Semeru Kompleks. Kompleks ini terdiri dari beberapa struktur kerucut vulkanik berumur Plestosen Atas dan beberapa kerucut yang lebih muda, berumur Holosen. Gunungapi Jembangan paling tua, menyusul Bromo-Tengger dan Semeru. 

Bromo-Tengger merupakan kompleks gunungapi dengan morfologi sangat bervariasi. Pada bagian puncak terdapat kaldera cukup luas dengan bentuk menyerupai belah ketupat dengan ukuran diagonal terpanjang sekitar 10 km. Dari dasar kaldera ini setidaknya terdapat 7 pusat erupsi, dengan kelurusan menyilang barat – timur dan timurlaut – baratdaya (van Padang, 1951), masing-masing Widodaren-Watangan, Kursi, Segarawedi Lor dan Kidul, Batok dan Bromo. Kelompok Bromo-Tengger dapat dikelompokkan benjadi beberapa satuan geomorfologi, yaitu Satuan Geomorfologi Lereng gunungapi Terdenudasi, Satuan Geomorfologi Sisa Kerucut Gunungapi, Satuan Geomorfologi Dataran Kaldera dan Satuan Geomorfologi Kerucut Gunungapi.

Satuan Geomorfologi Lereng gunungapi Terdenudasi menempati tubuh Komplek Tengger. Dibangun oleh material lava dan piroklastika hasil erupsi vulkan-vulkan Tengger. Sudut lereng satuan ini berkisar antara 250 – 600, dalam bentuk lembah-lembah berpola radier dan igir-igir sisa kaldera Tengger Tua. Termasuk dalam satuan geomorfologi ini misalnya bukit-bukit Argawulan, Ider-ider, Pandaklembu, Jantur, Gentong dan Penanjakan.

Satuan Geomorfologi Sisa Kerucut Gunungapi menempati bagian puncak Kompleks Bromo-Tengger. Satuan ini merupakan sisa erosi dan denudasi kerucut gunungapi yang tersusun oleh lava, endapan piroklastika dan endapan lahar. Pada satuan ini berkembang pola pengaliran semi radier dengan lembah-lembah lurus dan relatif landai dengan bentuk huruf V. Termasuk dalam satuan ini antara lain tubuh bukit Widodaren-Watangan, Kursi, Segarawedi, Cemaratiga, dan Wonotoro.

Satuan Geomorfologi Dataran Kaldera menempati puncak kompleks Bromo-Tengger, yang mengelilingi Satuan Kerucut Gunungapi dan Satuan Sisa Kerucut Gunungapi. Satuan ini dibangun oleh dataran pasir sampai bongkah.

Satuan Geomorfologi Kerucut Gunungapi terdiri atas dua kerucut gunugapi, Bromo dan Batok. Satuan ini tersusun atas endapan piroklastika. Pada kerucut Bromo terdapat kawah dengan kedalaman mencapai 200 m. Gunung Batok dengan ukuran lebih kecil, dipenuhi alur pola radier dengan lembah merata sebagai bentuk ideal dari morfotipe parasol ribbing.

 

  1. 3.      Kondisi Hdrologi

Seperti kebanyakan daerah vulkanik, wilayah Desa Ngadisari yang berdekatan dengan Gunung Bromo memiliki tatanan air yang radikal, sehingga pada musim kemarau, persediaan air hampir tidak tersedia atau bahkan benar-benar kering. Hal ini dikarenakan air telah menggenangi semua permukaan tanah selama musim hujan menghilang dengan cepat dengan menembus lapisan bawah tanah. Persediaan air dalam tanah hanya di dapat dari air hujan, yang juga mengalir di antara gunung-gunung batu. Meskipun pada musim hujan, sungai di daerah batu vulkanik penuh, tapi begitu musim kemarau tiba, semuanya akan mengering.

Sumber air dari Desa Ngadisari adalah dari sungai dan kanal. Terdapat lebih dari 50 sungai dan 4 danau di dalam kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger_Semeru (TN-BTS). Danau-danau tersebut diantaranya adalah Ranu Darungan, Ranu Pane, Ranu Regulo dan Ranu Kumbolo. Dalam hal ini menunjukkan bahwa TN-BTS memiliki peran yang sangat penting bagi daerah sekitarnya. Keberadaan mata air TN-BTS dapat memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat di desa-desa, dapat memenuhi kebutuhan air untuk pertanian dan menghasilkan energi / tenaga listrik.

  1. Aksesibilitas

Desa Ngadisari merupakan desa yang paling detak dengan lokasinya dengan Kawah Gunung Bromo. Desa Ngadisari memiliki akses yang paling dekat ke Lautan Pasir dan Kawah Gunung Bromo. Aksesibilitas yang dekat menjadikan desa ini cocok untuk persinggahan dan menjadi Desa Tujuan Wisata. Desa Ngadisari merupakan transit (daerah tujuan wisata) bagi wisatawan yang akan ke objek wisata Gunung Bromo. Lokasi Desa Ngadisari dari ibu kota Kecamatan Sukapura dari Surabaya jaraknya 15 Km, dan dari Ibu Kota Kabupaten Probolinggo jaraknya 42 Km, serta dari Surabaya Ibukota Provinsi Jawa Timur berjarak 118 Km.

Sarana transportasi merupakan salah satu pendukung dalam pariwisata. Bidang transportasi meliputi sarana jalan dan fasilitas angkutan. Menurut Nyoman S. Pendit (1986:21) untuk kelancaran transportasi perlu didukung oleh syarat-syarat tertentu, seperti jalan-jalan menuju objek wisata yang baik, lalu lintas lancar tidak banyak hambatan, jadwal perjalanan yang terencana dan teratur, sehingga sambungan hubungan antara jenis alat angkutan yang satu dengan yang lain berjalan menurut waktu dan rencana. Disamping itu, kondisi alat transportasi perlu diperhatikan agar tidak mengecewakan para wisatawan yang menggunakan jasa transportasi itu.

Mengenai sarana transportasi ke daerah Desa Ngadisari ini cukup memadai. Untuk sarana jalan dari Probolinggo sampai Desa Ngadisari sudah beraspal dan kondisi jalan cukup baik, sehingga kendaraan bermotor dapat sampai ke daerah tujuan dengan lancar. Namun kondisi jalan dari Desa Ngadisari (dusun cemoro lawang) ke objek wisata Kawasan Gunung Bromo kurang baik, bahkan sebagian ada yang masih berupa batu-batu besar dan kondisinya rusak, sehingga hanya jenis kendaraan tertentu yang dapat melalui jalan ini. Apalagi jalannya turun-naik, berbelok-belok, dan cukup curam, sehingga tampak mengerikan.

Sarana transportasi berupa angkutan umum dari Probolinggo ke Desa Ngadisari relatif lancar. Bagi wisatawan yang akan ke objek wisata Gunung Bromo yang tidak membawa kendaraan pribadi dapat naik angkutan umum berupa bus atau angkutan pedesaaan (taxi) sampai di Dusun Cemoro Lawang Desa Ngdisari. Selanjutnya bagi wisatawan yang akan ke objek Wisata Gunung Bromo, Pananjakan, Ranu Pani, Padang Savana, Pura Luhur Poten dan Guwo Widodaren, baik yang membawa kendaraan sendiri maupun yang naik angkutan umum, disediakan angkutan khusus jeep dan kuda.

Sarana transportasi angkutan khusus jeep dan kuda ini menjadi kebijakan Pemerintahan Desa Ngadisari sebagai masukan pendapatan masyarakat. Untuk mengatur kelancaran, ketertiban dan supaya tidak saling berebut penumpang serta tidak terjadi persaingan tarif angkutan, telah dibentuk Paguyuban dan ketetapan tarif sewa angkutan khusus ini. Sebelum ada paguyuban terutama angkutan jeep, cari penumpang berebutan, taripnya bersaing dan wisatawan merasa tidak nyaman.

Untuk angkutan wisata kuda, lokasinya (daerah tujuan) Dusun Cemara Lawang – Gunung Bromo dan Poten (Lautan Pasir)- Gunugn Bromo. Pada umumnya wisatawan yang akan ke Gunung Bromo naik kuda, meskipun sudah menywa jeep setelah dari Pananjakan. 

  1. Iklim

Desa Ngadisari termasuk Kawasan Tengger, merupakan daerah pegunungan yang paling dekat dengan Gunung Bromo. Sebagai daerah pegunungan, Desa Ngadisari juga termasuk daerah dataran tinggi yang terdidi dari lembah-lembah dan lereng-lereng perbukitan, dengan ketinggian 1800 m di atas permukaan air laut. Desa Ngadisari termasuk kedalam daerah yang beriklim tropis seperti di daerah tengger dan daerah-daerah yang ada di Indonesia, dengan curah hujan 2000 m/tahun dan suhu rata-rata harian 10°C-20°C.

Iklim di daerah Desa Ngadisari ini memiliki kondisi yang berbeda antara musim penghujan dengan musim kemarau. Pada musim penghujan yang terdapat antara bulan Nopember sampai dengan bulan Maret , terjadi kelembapan udara rata-rata 80 % sehingga terasa sangat dingin, Suhu udara berubah-ubah, tergantung ketinggian, antara 3° – 18° Celsius. Sebaliknya pada musim kemarau yang terjadi antara bulan April sampai bulan Oktober cuaca agak bersih dari kabut, tetapi keadaan sering diganggu oleh debu yang bertebaran karena ditiup angin kencang. Pada musim ini biasanya pada malam hari temperatur terasa lebih dingin dibandingkan musim hujan (machmud, 2003:137). Mengenai kabut ini bisa berubah setiap saat, siang hari pun dapat terjadi kabut yang tebal dan suasana seperti malam hari.

  1. Geologi

Desa Ngadisari ini terletak di daerah Gunung Bromo dan Gunung Semeru (gunung berapi yang masih aktif) merupakan daerah yang sangat subur. Tanahnya berupa campuran tanah liat dan tanah padas yang termasuk jenis padsol . jenis tanah ini bahan induknya berasal dari batuan vulkanis yang tidak komapak, gembur, seperti pasir. Keadaan tanah jenis tanah dan suhu udara sangat menentukan keberadaan jenis tumbuhan yang dapat tumbuh subur secara alami. Menurut machmud (2003:137-138) tumbuh-tumbuhan yang hidup didaerah ini sangat beragam, mulai dari tanaman keras dan besar sampai ke tanaman lunak dan tergolong kecil. Tanaman keras, seperti akasia, cemara gunung, sedangkan tanaman lunak termasuk jenis sayuran seperti kentang, kubis, wortel, jagung, ubi ketela, bawang putih, bawang prei, sawi dan tomat.

  1. Kondisi Sosial

Di setiap daerah mempunyai kondisi sosial yang berbeda-beda. Demikian pula di Tengger Khususnya desa Ngadisari. Kondisi sosial masyarakat Tengger dapat digambarkan sebagai berikut :

Beberapa faktor yang menunjukkan perubahan-perubahan di daerah Tengger mengakibatkan berbagai dampak pada masyarakat Tengger. Dampak dari perubahan sosial tersebut dapat bersifat kemajuan, tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi dampak yang dirasa merugikan atau negatif. Artinya, dampak tersebut dapat bersifat menguntungkan atau positif apabila unsur-unsur perubahan dapat diterima dan dikembangkan oleh warga masyarakat Tengger, sehingga menghasilkan kemajuan dan perkembangan untuk kemakmuran hidup masyarakat Tengger serta ada gairah untuk pengembangan selanjutnya. Sedangkan dampak yang dianggap merugikan dan negatif apabila seluruh masyarakat Tengger atau sebagian besar warganya tidak dapat menerima unsur-unsur perubahan yang mengakibatkan terganggunya stabilitas niliai-nilai yang dijunjung tinggi oleh warga masyarakat Tengger, sehingga menyebabkan masyarakat tenggelam dalam persoalan yang dihadapinya dan tidak dapat mengambil sikap (keputusan) terhadap keadaan yang baru.

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa di daerah Tengger terjadi kecenderungan  perkembangan ke arah yang positif, terutama berkaitan dengan masalah ekonomi. Kemajuan-kemajuan yang didapatkan dari kesuburan alam membuktikan bahwa semakin meningkatnya pendapat sebagian masyarakat Tengger. Kemajuan dalam bidang ekonomi tersebut tentu saja dari keberhasilan dari bidang-bidang lain yang erat kaitannya dengan hasil inovasi masyarakat Tengger itu sendiri. Kemajuan dalam bidang ekonomi ini terbukti dengan tingginya swadaya masyarakat terhadap pembangunan-pembangunan yang disubsidi pemerintah. Kesadaran masyarakat akan pentingnya pembangunan juga merupakan indikasi bahwa kemajuan-kemajuan dalam bidang mentalitas telah ditampilkan ke permukaan, karena pembangunan  dapat bergerak maju harus diupayakan atas kekuatan sendiri (Self Substaining Proses). Selain karena kesuburan alam, kemajuan dan perkembangan ekonomi di daerah Tengger, juga ditunjang oleh turisme, sehingga banyak warga masyarakat Tengger, banyak memanfaatkan turisme sebagai tambahan penghasilan. Misalnya dengan menyewakan kamar-kamar untuk penginapan dan menyewakan Jeep untuk dipakai para wisatawan melakukan perjalanan ke Bromo.

Keberhasilan masyarakat Tengger dalam bidang ekonomi dapat diamati dengan melihat bangunan-bangunan rumah peduduk serta barang-barang mewah yang dimiliki oleh masyarakat, seperti kendaraan roda empat maupun roda dua, perabot rumah tangga seperti TV berwarna, meja kursi yang bagus, tempat tidur yang bagus dan sebagainya. Melihat bentuk fisik bangunan-bangunan rumah yang ada di kawasan Tengger menunjukkan adanya kemajuan-kemajuan dalam bidang ekonomi. Bangunan rumah yang terbuat dari batu bata, genting pres, langit-langitnya dari eternit, lantainya berkeramik serta daun jendela dan daun pintu yang berkaca tebal. Kesemuanya ini mereka peroleh dengan cara membeli dari kota. Kalau secara perhitungan membangun sebuah rumah yang bagus di daerah Tengger biayanya bisa mencapai dua kali lipat lebih mahal bila dibandingkan dengan membangun sebuah rumah di daerah sekitar kota.

Uraian dari keseluruhan dampak yang diakibatkan oleh terjadinya perubahan-perubahan sosial di daerah Tengger akhirnya juga berpengaruh terhadap hubungan sosial kemasyarakatannya, baik terhadap hubungan kekeluargaan, kegotong-royongan maupun kegiatan hubungan kemasyarakatan lainnya, sehingga akhirnya berpengaruh pula terhadap perkembangan adat dan kebudayaan yang telah dilestarikan. Seperti halnya adanya perkawinan antara orang Tengger dengan orang Bali yang mengakibatkan masuknya budaya Bali ke Tengger, misalnya dengan adanya Ogo-ogo (Bhuta Yadnya) pada waktu hari raya Nyepi.

  1. Kondisi Ekonomi

 

Kehidupan perekonomian suku Tengger pada umumnya sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani karena ¾ ha lahan di suku Tengger, Ngadas berupa tanah tegalan dan sisanya pemukiman penduduk. Untuk komoditas utamanya yaitu sayur-sayuran seperti kentang, bawang daun, dan kobis. Ketiga komoditas ini merupakan komoditas utama yang dihasilkan oleh petani Suku Tengger. Lahan yang digarap umumnya milik sebagian warga Tengger yang terbentuk dalam kelompok tani sebagai berikut :

  1. Kelembagaan Tani Semeru
  2. Kelembagaan Tani Bromo
  3. Gapoktan Semeru

 

Selain itu ada program-program yang pernah dilaksanakan oleh Lingkup pertanian Tengger sebagai berikut :

 

  1. Pemupukan modal kelompok Tani tahun 2007 di kelompok Semeru.
  2. Sekolah Lapang Budidaya Kentang 2008 kelompok Semeru.
  3. Sekolah lapang GAP tanaman kentang tahun 2009 di kelompok Bromo (APB Propinsi)
    1. Sekolah lapang GAP kentag lanjutan 2010 kelompok Bromo (APB Propinsi)
    2. Konservasi lahan tahun 2008 di kelompok Semeru (APBN).
    3. PUAP tahun 2009 di Gapoktan Semeru.

                        Mata pencaharian mayoritas penduduk  kebanyakan bertani. Mereka berkendaraan sepeda motor bila hendak ke ladang. Jika panen tiba, barulah mereka mengoperasikan jeep untuk mengangkut hasil panen. Hasil panen  tidak saja disimpan di gudang-gudang yang dibangun di tengah-tengah ladang, tetapi juga dibungkus dengan karung-karung plastik dan diletakkan di tepi-tepi kebun. Hal ini untuk memudahkan pengangkutannya ke pasar. Gudang-gudang sederhana yang terbuat dari papan kayu ini sering kali menjadi tempat tinggal pada saat musim panen.

Warga Tengger pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani hortikultura. Lahan di lereng-lereng pegunungan Tengger bukan tempat bertanam padi. Di situ cocok untuk bertani tanaman sayur mayur. Kesuburan lahan di lereng-lereng perbukitan dengan kemiringan yang terjal ini tidak terlepas dari kondisi pegunungan Tengger yang berada di antara dua gunung yang masih aktif, Gunung Bromo dan Gunung Semeru.

Petani Tengger dalam beberapa tahun terakhir sudah mulai mengganti dengan tanaman perdagangan, seperti kentang , wortel, bawang daun, tomat, sawi, kol putih, kol merah dan kembang kol.  Mereka tidak perlu menjual ke luar desanya karena  sudah ada para pengepul yang datang dari Probolinggo, Pasuruan bahkan dari Surabaya datang untuk membeli hasil pertanian dari Tengger.

Tanaman kentang pada umumnya bisa dipanen tiga kali dalam satu tahun, terutama di kawasan yang subur dengan kondisi musim dan cuaca yang baik.  Sementara di dataran yang sangat sedikit potensi air bawah tanah, ditambah dengan kondisi cuaca yang tidak mendukung, panen hanya bisa dilakukan dua kali dalam setahun. Tanah pertanian yang berbukit-bukit curam, dengan kemiringan sampai lebih dari 45 derajat , diolah dengan sistem terasiring. Sistem ini memungkinkan, petani suku Tengger melakukan usaha budidaya tanaman. Tidak ada alat teknologi pertanian yang dipergunakan, selain cangkul dan sabit.

Dari segi ekonomi, terdapat peningkatan yang cukup signifikan bukan hanya karena di daerah Tengger terdapat kawasan wisata Gunung Bromo, melainkann juga karena produktivitas yang meningkat dalam pertaniannya, serta adanya usaha-usaha lain. Di kalangan masyarakat kita terdapat asumsi kuat bahwa mereka adalah masyarakat yang cukup berada.

Selain sebagai Petani, warga Tengger juga membuka warung rumahan dan beternak Sapi, kuda, kambing, Babi, dan ayam buras. Dari hasil itu mereka sudah dapat mencukupi kehidupan mereka sehari-hari.

 

  1. Kondisi Sarana dan Prasarana

a)      Pendidikan

Penduduk suku Tengger memang modern dan kehidupan perekonomian komoditas utamanya adalah sayuran, tetapi di bidang pendidikan masih tergolong kurang memadai. Hal ini terlihat dengan adanya bangunan sekolah yang masih kurang layak untuk menampung anak-anak Tengger. Sekolah Tengger sendiri hanya terdiri dari TK, SD, dan SMP, untuk sekolah taman kanak-kanak sendiri  bangunannya masih bergabung dengan Balai Desa, untuk sekolah dasarnya hanya terdiri 3 ruangan yaiti 2 ruang kelas dan 1 ruang guru, untuk Sekolah Menengah Pertama terdiri hanya terdiri 2 ruangan saja yaitu 1 ruang kelas dan 1 ruang Guru. Hal ini memang butuh perhatian Pemerintah setempat dan perlu tindakan yang serius untuk menangani hal tersebut. Kalau untuk  kemampuan anak-anak Tengger sendiri sudah dapat dikatakan baik, terbukti anak-anak Tengger dapat belajar dan membantu orang tuanya dengan tidak melupakan tugas-tugas sekolah. Salah seorang anak dari Petani dan Pedagang selalu mendapat juara I dikelasnya, padahal setelah pulang sekolah dia membantu orang tuanya di dapur dan berjualan, tetapi untuk belajar tetap dia prioritaskan. Untuk  malanjutkan ke Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi harus keluar Tengger seperti di kecamatan dan kabupaten, hal ini menjadikan warga Tengger memilih tidak melanjutkan sekolah karena jarak yang jauh dari desa. Hanya beberapa saja yang melanjutkan sekolah di kota, karena pendidikan bukan menjadi prioritas utama bagi kehidupan mereka tetapi ladang pertanian yang menjadi sumber matapencaharian sehari-hari.

b)      Kesehatan

Suhu udara dan cuaca di suku Tengger, Ngadas memang dibawah rata-rata. Dengan cuaca yang tidak menentu dan berkabut tebal tidak menjadikan warga Tengger Ngadas manjadi malas berkerja dan tidak melakukan aktivitas apapun. Mereka tetap melakukan aktifitas seperti berladang, beternak, berdagang, sekolah, dan lainnya. Kesehatan mereka tidak terganggu dengan adanya cuaca yang tidak menentu. Fasilitas di desa Ngadas terdiri dari  I Puskesmas saja yang dikelola oleh seorang Bidan dari daerah Tumpang. Mereka mempercayakannya dengan Bidan tersebut, karena di Ngadas tidak ada obat-obatan tradisional dan tabib.

c)      Susunan Pemerintahan

Susunan Pemerintahan desa Ngadas dipimpin oleh seorang Kepala Desa dan pamong-pamong desa lainnya. Ada kepemimpinan tradisional tetapi Kepala Desa tetap menjadi pimpinan utama. Pemimpin tradisinal hanya satu Pemangku adat atau dukun adat, itupun hanya memimpin upacara-upacara adat saja untuk semua warga Tengger dengan tidak memandang keyakinan masing-masing.

Secara tradisi, masyarakat Tengger di pimpin oleh seorang dukun. Seorang kepala dukun biasanya berasal dari kalangan berkemampuan finansial cukup baik. Dalam struktur sosial masyarakat Tengger, posisi dukun, lebih-lebih kepala dukun, menduduki posisi teratas. Karena itulah, jabatan kepala dukun merupakan jabatan yang sangat strategis dalam struktur sosial masyarakat Tengger[1][22].

 

d)     Legenda Masyarakat Setempat

Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu. Mereka yakin merupakan keturunan langsung dari Majapahit. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu “Teng” akhiran nama Roro An-“teng” dan “ger” akhiran nama dari Joko Se-“ger”.

                        Alkisah pada jaman dahulu kala ada seorang putri Raja Brawijaya dengan Permaisuri kerajaan Majapahit mereka mempunyai anak yang bernama Rara Anteng. Karena situasi kerajaan memburuk, Rara Anteng mencari tempat hidup yang lebih aman. Ia dan para punggawanya pergi ke Pegunungan Tengger. Di Desa Krajan, ia singgah satu windu, kemudian melanjutkan perjalanan ke Pananjakan. Ia menetap di Pananjakan dan mulai bercocok tanam. Rara Anteng kemudian diangkat anak oleh Resi Dadap, seorang pendeta yang bermukim di Pegunungan Bromo.

Sementara itu, Kediri juga kacau sebagai akibat situasi politik di Majapahit. Joko Seger, putra seorang brahmana, mengasingkan diri ke Desa Kedawung sambil mencari pamannya yang tinggal di dekat Gunung Bromo. Di desa ini, Joko Seger mendapatkan informasi adanya orang-orang Majapahit yang menetap di Pananjakan. Joko Seger pun melanjutkan perjalanannya sampai Pananjakan.

Joko Seger tersesat dan bertemu Rara Anteng yang segera mengajaknya ke kediamannya. Sesampai di kediamannya, Rara Anteng dituduh telah berbuat serong dengan Joko Seger oleh para pinisepuhnya. Joko Seger membela Rara Anteng dan menyatakan hal itu tidak benar, kemudian melamar gadis itu. Lamaran diterima. Resi Dadap Putih mengesahkan perkawinan mereka.

Sewindu sudah perkawinan itu namun tak juga mereka dikaruniai anak. Mereka bertapa 6 tahun dan setiap tahun berganti arah. Sang Hyang Widi Wasa menanggapi semedi mereka. Dari puncak Gunung Bromo keluar semburan cahaya yang kemudian menyusup ke dalam jiwa Rara Anteng dan Joko Seger. Ada pawisik mereka akan dikaruniai anak, namun anak terakhir harus dikorbankan di kawah Gunung Bromo.

Pasangan ini dikarunia 25 anak sesuai permohonan mereka, karena wilayah Tengger penduduknya sangat sedikit. Berikut ini nama-nama anak Rara Anteng dan Joko Seger :

 

  1. Tumenggung Klewung (Gunung Ringgit)
  2. Sinta Wiji (Gunung Kidangan)
  3. Ki Baru Klinting (Lemah Kuning)
  4. Ki Rawit (Gunung Sumber Semani)
  5. Jinting Jinah (Gunung Jinahan)
  6. Ical (Gunung Pranten)
  7. Prabu Siwah (Gunung Lingga)
  8. Cokro Pranoto Aminoto (Gunung Gendera)
  9. Tunggul Wulung (Cemoro Lawang)
  10. Tumenggung Klinter (Gunung Pananjakan)
  11. Raden Bagus Waris (Watu Balang)
  12. Ki Dukun (Watu Wungkuk)
  13. Ki Pranoto (Poten)
  14. Ni Perniti (Gunung Bajangan)
  15. Petung Supit (Tunggukan)
  16. Raden Mas Sigit (Gunung Batok)
  17. Puspa Ki Gentong (Widodaren)
  18. Kaki Teku Niti Teku (Guyangan)
  19. Ki Dadung Awuk (Banyu Pakis)
  20. Ki Dameling (Pusung Lingker)
  21. Ki Sindu Jaya (Wonongkoro)
  22. Raden Sapujagad (Pundak Lemdu)
  23. Ki Jenggot (Rujag)
  24. Demang Diningrat (Gunung Semeru)
  25. Raden Kusuma (Gunung Bromo)

 

Bertahun-tahun kemudian Gunung Bromo mengeluarkan semburan api sebagai tanda janji harus ditepati. Suami istri itu tak rela mengorbankan anak bungsu mereka. R Kusuma kemudian disembunyikan di sekitar Desa Ngadas. Namun semburan api itu sampai juga di Ngadas. R Kusuma lantas pergi ke kawah Gunung Bromo. Dari kawah terdengar suara R Kusuma supaya saudara-saudaranya hidup rukun. Ia rela berkorban sebagai wakil saudara-saudaranya dan masyarakat setempat. Ia berpesan, setiap tanggal 14 Kesada, minta upeti hasil bumi.

Maka setiap tanggal 14 bulan purnama di bulan Kasada, dikirimilah Raden Kusuma beragam hasil ladang ke kawah Gunung Bromo. Upacara persembahan tersebut menjadi tradisi yang diselenggarakan secara turun temurun hingga sekarang yang diberi nama Yadnya Kasada.

Sedangkan sejarah gunung batok, lautan pasir dan kawah bromo adalah sebagai berikut. Di wilayah pegunungan di Tengger, kita mengenal adanya Gunung Batok, Lautan Pasir, dan Kawah Gunung Bromo yang terkenal. Ternyata mereka punya asal-usul dan sejarah dalam bentuk legenda. Dan legenda tersebut nggak jauh-jauh dari tokoh Rara Anteng.

Sebelum Rara Anteng dinikahi Joko Seger, terdapat Kyai Bima, penjahat sakti yang naksir. Rara Anteng tidak bisa menolak begitu saja lamaran itu. Ia menerimanya dengan syarat, Kyai Bima membuatkan lautan di atas gunung dan selesai dalam waktu semalam.

Kyai Bima menyanggupi persyaratan tersebut dan bekerja keras menggali tanah untuk membuat lautan dengan menggunakan tempurung (batok) yang bekasnya sampai sekarang menjadi Gunung Bathok, dan lautan pasir (segara wedhi) terhampar luas di sekitar puncak Gunung Bromo. Untuk mengairi lautan pasir tersebut, dibuatnya sumur raksasa, yang bekasnya sekarang menjadi kawah Gunung Bromo.

Rara Anteng cemas melihat kesaktian dan kenekatan Kyai Bima. Ia segera mencari akal untuk menggagalkan minat Kyai Bima atas dirinya. Ia pun menumbuk jagung keras-keras seolah fajar telah menyingsing, padahal masih malam. Mendengar suara orang menumbuk jagung, ayam-ayam bangun dan berkokok. Begitu pula burung. Kyai Bima terkejut. Dikira fajar telah menyingsing. Pekerjaannya belum selesai. Kyai Bima lantas meninggalkan Bukit Penanjakan. Ia meninggalkan tanda-tanda:

 

1. Segara Wedhi, yakni hamparan pasir di bawah Gunung Bromo

2. Gunung Batok, yakni sebuah bukit yang terletak di selatan Gunung Bromo, berbentuk seperti tempurung yang ditengkurapkan.

3. Gundukan tanah yang tersebar di daerah Tengger, yaitu: Gunung Pundaklembu, Gunung Ringgit, Gunung Lingga. Gunung Gendera, dan lain-lain.