1. Sistem Kemasyarakatan/kelembagaan
  2. Pemerintah Formal

Pemerintahan formal pada masyarakat Tengger di Desa Ngadisari sama seperti yang lainnya yakni memiliki pemerintahan administratif yang dipimpin oleh kepala desa. Kepala Desa bertugas untuk mengatur berbagai hal yang berada di wilayah Wonokitri. Pemilihan kepala desa dilakukan 5 tahun sekali secara demokrasi yakni dipilih secara langsung oleh warga secara aman dan tertib karena warga Tengger disini sangat menjunjung tinggi nilai persamaan, demokrasi dan kehidupan masyarakat. Ormas yang sering diikuti oleh masyarakat Tengger di Desa Ngadisari adalah kelompok tani dan perkumpulan adat yang ada di masyarakat Tengger dan ada pula masyarakat Tengger yang tidak mengikuti kegiatan ormas tersebut.  

 

  1. Pemerintahan Informal

Selain pemerintahan formal, masyarakat Tengger di Desa Wonokitri juga memiliki pemerintahan informal yang memimpin seluruh perkampungan yakni berupa dukun. Sosok dukun ini sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Tengger sehingga lebih dipercaya, disegani dan dihormati daripada pejabat administratif. Tugas dan fungsi dukun adalah mengatur upacara adat, membimbing pemuda dalam memahami hindu, menyimpan benda keramat, konsultan masalah adat (hajatan dan menikahkan), dan menjaga masyarakat. Dukun ini dianggap sebagai orang terpandang yang selalu dihormati oleh seluruh warga dimana tidak sembarang orang dapat menduduki jabatan tersebut. Seorang dukun memiliki jabatan yang tidak ditentukan dan jabatan tersebut akan berpindah manakala dukun tersebut sudah tidak mampu menjalankan tugasnya dan memutuskan untuk berhenti. Untuk menjadi seorang dukun diperlukan perjuangan keras yakni harus menghapal bacaan atau mantra-mantra yang sulit, dan apabila ada orang yang sudah siap menjadi dukun maka orang tersebut akan di tes hapalannya oleh seluruh dukun di Gunung Bromo dengan disaksikan warga. Lembaga informal ini digunakan untuk mengikuti aparat adat, mempersatukan adat (upacara kasada), menjaga kearifan local, menjaga adat istiadat, penggerak ibadah dan penggerak pembangunan serta pengikat tali persaudaraan.

 

  1. Konflik

Masyarakat Tengger merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi persamaan, demokrasi, toleransi dan kehidupan masyarakat sehingga keadaan masyarakat disini sangat aman dan tidak pernah mengalami adanya konflik baik antar warga maupun warga dengan pihak lembaga kemasyarakatan. Masyarakat Tengger selalu bersifat ramah terhadap siapapun yang datang mengunjunginya. Masyarakat Tengger juga pantang untuk berbohong apalagi mencuri meskipun memang tidak terdapat sanksi-sanksi khusus namun mereka terikat oleh adat dan mempunyai rasa kekeluargaan yang tinggi sehingga apapun dilaksanakan secara kekeluargaan tanpa adanya persengketaan yang menyebabkan konflik. Pada Suku Tengger juga terdapat hukum adat sebagai warisan nenek moyang dalam membantu menjaga keamanan Suku Tengger walaupun akhir-akhir ini hukum tersebut semakin pudar sebagai pengaruh perkembangna zaman. Seandainya ada konflik yang terjadi pada masyarakat Tengger maka bentuk penyelesaiaannya dengan cara diberikan pengarahan oleh keluarganya dan masyarakat lainnya dan apabila konflik tersebut belum terselesaikan dengan cara seperti itu maka tindakan selanjutnya adalah dengan di damaikan oleh pihak lain yaitu kepala desa atau petinggi desa (dukun). Tetapi kasus diatas jarang terjadi di masyarakat Tengger, karena masyarakat Tengger berpedoman hidup tentram dan saling menghargai satu sama lain.

3. kondisi sosial

            Masyarakat Indonesia sangatlah multikultural. Berbagai ragam seni dan budaya tersebar di seluruh Indonesia dan dengan penampakan alamnya akan menimbulkan perilau sosial yang berbeda-beda. Demikian pula dengan kehidupan masyarakat suku Tengger di Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura yang menjadi objek kajian dalam praktik kuliah lapangan dalam kesempatan ini.

            Kehidupan masyarakat tengger di Desa Ngadisari penuh dengan kedamaian dan kondisi masyarakat yang sangat aman dan rukun. Setiap permasalahan yang terjadi diselesaikan dengan jalan musyawarah yang dipimpin oleh petinggi dan orang-orang berpengaruh lainnya yang secara posisinya sangat dihormati dan dipatuhi oleh masyarakat setempat. Apabila ada pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakatnya maka itu cukup diselesaikan oleh petinggi saja. Selain patuh pada adat mereka juga patuh pada peraturan pemerintahan sehingga memperkecil peluang terjadinya konflik.

            Warga Tengger umumnya termasuk di Desa Ngadisari terkenal dengan karakternya, keluhuran budi pekerti dan sikapnya yang sangat sadar hukum. Di daerah ini jarang terjadi tindakan pencurian, pembunuhan ataupun tindakan kriminal lainnya. Kehidupan di Ngadisari sangat harmonis.

            Salah satu aspek yang mendukung tingginya tingkat kerukunan di Desa Ngadisari adalah dasi aspek kepercayaan. Warga Ngadisari yang merupakan suku Tengger tersebut sebagian besar menganut agama Hindu dan sangat taat dengan adat istiadat yang ada. Ketaatan mereka pada Tuhan dan adat yang ada yang juga sangat kental dengan hal-hal yang sifatnya mistis menjadikan karakter mereka sebagai masyarakat yang harmonis sangat kuat.

            Apabila ada warga yang melakukan pelanggaran pada akhirnya akan dibiarkan saja oleh yang lainnya. Tidak akan ditgur atau dinasihati lagi dalam bentuk apapun. Hanya di diamkan saja. Hal itu dikarenakan masyarakat percaya akan adanya hukum karma, Tuhan dan juga makhluk penunggu lainnya yang ada di daerah tersebut yang akan membalas perbuatan atau pelanggaran tersebut.

            Dewasa ini wilayah Desa Ngadisari yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Gunung Bromo telah mengalami perkembangan dan kemajuan yang signifikan. Salah satunya adalah dengan dibukawa Bromo menjadi daerah kawasan wisata. Perubahan itu tentunya mengakibatkan berbagai dampak perubahan soaial bagi Desa Ngadisari dan sekitarnya. Adapun dampak perubahan sosial yang terjadi sejauh ini bagi Suku Tengger di Desa Ngadisari bersifat kemajuan, tetapi tidak menutup kemungkinan akan adanya dampak negatif dan merugikan.

            Dengan adanya orang asing (wisatawan) yang masuk ke wilayah Ngadisari tentunya akan mempengaruhi perilaku masyarakat. Penelitian di lapangan menunjukkan bahwa setelah dibukanya Bromo menjadi kawasan wisata, masyarakat semakin rukun dengan adanya kerjasama dalam mata pencaharian yang baru dengan menyewakan kuda tunggungan, mobil jeep, dan juga penginapan.

 

4. kondisi ekonomi

            Masyarakat Desa Ngadisari bermata pencaharian sebagai petani kurang dari 5% saja masyarakatnya yang berkerja selain menjadi petani. Dalam kehidupan sehari-hari merkea sangatlah sederhana, rajin dan damai. Ladang mereka berada di lereng-lereng gunung dan juga puncak-puncak yang berbukit-bukit.

            Kebanyakan dari masyarakat memiliki ladang yang jauh dari tempat tinggalnya sehingga harus membuat gubuk-gubuk sederhana di ladanganya untuk beristirahat sementara waktu. Mereka bekerja hingga sore hari di ladanganya. Pada masa kini, masyarakt Tengger di Desa Ngadisari umumnya hidup sebagai petani di ladang. Mereka memiliki prinsip yang kaut dalam pertaniannya, yaitu tidak mau menjual tanah (ladang) mereka pada orang lain.

            Mereka hidup dari bercocok tanam di ladang, dengan pengairan tadah hujan. Pada mulanya mereka menanam jagung sebagai makanan pokok, akan tetapi saat ini sudah berubah. Pada musim hujan mereka menanam sayuran seperti kentang, kubis, bawang prey, dan wortel sebagai tanaman perdagangan. Pada penghujung musim hujan mereka barulah menanam jagung sebagai cadangan makanan pokok.

            Macam hasil pertaniannya adalah kentang, kubis, wortel, tembakau, dan jagung. Untuk pendistribusian hasil pertanian dilaksanakan melalui tengkulak, tengkulak atau pedagang langsung yang menjemput komoditas pertaniannya. Kelebihan penjualan hasil ladang ditabung untuk perbaikan rumah serta untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya.

            Selain bertani, ada sebagian masyarakat yang berprofesi sebagai pemandu wisata di Bromo. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan menawarkan kuda dan jeep yang mereka miliki untuk disewakan kepada wisatawan. Aspek pembangunan yang terlihat adalah pada sektor pariwisata, misalnya dengan pembangunan-pembangunan akses-akses menuju gunung  Bromo agar lebih mudah dijangkau wisatawan. Fasilitas yang dibangun untuk pariwisata misalnya hotel, restoran, cafe, musium, toko aksesoris, warung-warung dan sebagainya.

5. Pendidikan

Aspek yang sangat penting untuk mengembangkan pribadi dan pengetahuan yang kemudian dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup dan memajukan desanya, rupanya ini juga didasari oleh masyarakat di Desa Ngadisari. Selanjutnya untuk meningkatkan sumber daya manusia penduduk Desa Ngadisari maka pemerintah desa mewajibkan warganya untuk menempuh pendidikan minimal belajar 9 tahun. Desa memiliki kebijakan bahwa warganya menempuh jenjang pendidikan minimal 9 tahun, walaupun dalam pelaksanaannya masih banyak ketimpangan dan permasalahan yang harus diadapi. Hali ini terlihat dari tingkat pendidikan lulusan SD masih cukup banyak, berikut tingkat pendidikan yang tercatat sebagaimana dalam tabel dari monografi Desa Ngadisari tahun 2012 :

No

TINGKAT PENDIDIKAN

JUMLAH (ORANG)

%

1

PAUD

20

1,35

2

TK

38

2,57

3

SD

799

54,06

4

SMP

395

26,72

5

SMA

168

11,37

6

D3

5

0,34

7

SI

48

3,25

8

S2

5

0,34

JUMLAH

1478

100

 

Untuk mengetahui tingkat pendidikan penduduk Desa Ngadisari yang menjadi responden kami dalam penilitian ini yang diambil secara random atau secara acak kepada penduduk yang kami temui di tempat, kami menyajikan tabel tingkat pendidikan mereka yang telah diolah agar menjadi data yang mudah dipahami sebagai berikut :

NO

TINGKAT PENDIDIKAN

JUMLAH (ORANG)

%

1

TIDAK SEKOLAH

2

2

2

SD

34

33,7

3

SMP

31

30,6

4

SMA/SMK

34

33,7

5

PERGURUAN TINGGI

0

0

JUMLAH

101

100

 

 

            6. Pola pemukiman

Pola pemukiman menunjukan tempat bermukim manusia dan bertempat tinggal menetap dan melakukan kegiatan/aktivitas sehari-harinya. Pemukiman dapat diartikan sebagai suatu tempat (ruang) atau suatu daerah dimana penduduk terkonsentrasi dan hidup bersama menggunakan lingkungan setempat, untuk mempertahankan, melangsungkan, dan mengembangkan hidupnya.

Pola pemukiman Desa Ngadisari ini memiliki pola memanjang atau linier di sepanjang kiri dan kanan jalan umum yang berdekatan atau menggerombol pada suatu tempat yang dihubungkan dengan jalan sempit atau tidak lebar antara satu desa dengan desa lain. Dikarenakan permukaan atau relief di Desa Ngadisari merupakan relief dataran tinggi maka penduduk membuat pemukiman yang sesuai dengan lingkungan mereka berada. Selain relief factor yang mempengaruhi pola pemukiman disana adalah kesuburan tanah, keadaan iklim, keadaan ekonomi, kultur penduduk.

Pembangunan sebuah rumah selalu diawali dengan selamatan, demikiah pula apabila bangunan telah selesai diadakan selamatan lagi. Pada setiap bangunan yang sedang dikejakan selalu terdapat sesajen, yang digantungkan pada tiang-tiang, berupa makanan, ketupat, lepet, pisang raja dan lain-lain. Bangunan rumah orang Tengger biasanya luas sebab pada umumnya dihuni oleh beberapa keluarga bersama-sama, Ada kebiasaan bahwa seorang pria yang baru saja menikah akan tinggal bersama mertuanya

Tiang dan dinding rumahnya terbuat dan kayu dan atapnya terbuat dan bambu yang dibelah. Setelah bahan itu sulit diperoleh, dewasa ini masyarakat telah mengubah kebiasaan itu dengan menggunakan atap dan seng, papan atau genteng.

Alat rumah tangga tradisional yang hingga sekarang pada umumnya masih tetap ada adalah balai-balai, semacam dipan yang ditaruh di depan rumah. Di dalam ruangan rumah itu disediakan pula tungku perapian (pra pen) yang terbuat dan batu atau semen. Perapian ini kurang lebih panjangnya 1/4 dari panjang ruangan yang ada. Di dekat perapian terdapat tempat duduk pendek terbuat dari kayu (dingklik bhs jawa) yang meliputi kurang lebih separuh dan seluruh ruangan. Apabila seorang tamu di terima dan dipersilakan duduk di tempat ini menunjukkan bahwa tamu tersebut diterima dengan hormat.

Selain digunakan untuk penghangat tubuh bagi penghuni rumah, perapian juga dimanfaatkan untuk mengeringkan jagung, atau bahan makan lainnya yang memerlukan pengawetan dan ditaruh di atas paga. Dekat tempat perapian itu terdapat pula alat-alat dapur, lesung, dan tangga. Halaman rumah mereka pada umumnya sempit (kecil) dan tidak ditanami pohon-pohonan. Di halaman itu pula terdapat sigiran, tempat untuk menggantungkan jagung yang belum dikupas. Selain itu, sigiran dimanfaatkan untuk menyimpan jagung, sehingga juga berfungsi sebagai lumbung untuk menyimpan sampai panen mendatang